“Apalah Saya, yang Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga

“Apalah saya, hanya seorang ibu rumah tangga yang ingin bisa memberdayakan sesama ibu lainnya…” Oleh Wichitra Yasya

 

Sebelum membaca, sedikit kami berikan informasi bahwa
Artikel ini adalah murni karya dari awardee LPDP IPB. Kami sebarluaskan karya ini secara gratis karena banyak oknum-oknum yang memanfaatkan peluang untuk mencari keuntungan dari salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Karya ini kami sebarluaskan agar bisa menjadi amal jariyah kami, dimana bisa menginspirasi teman-teman pembaca dan membantu mendapatkan beasiswa LPDP. Jika artikel ini disebarluaskan dengan dipungut biaya, kami dan penulis tidak akan meridhoi sehingga uang yang diterima tidak barokah. Sekian dari kami terima kasih sudah berkunjung

Oleh
Wichitra Yasya, S.Si (ITB), MCommun (Queensland)
PK 7 – Awardee LPDP IPB Prodi S3 Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
FB: Wichitra Yasya,
IG: wichitrayasya ; Twitter: @wichitrayasya

wichitra-yasya
Saat saya mendaftar LPDP, saya berbeda dengan para calon awardee lainnya. Saya bukan fresh graduate dengan sejuta mimpi, saya bukan pekerja profesional di bidangnya, dan tidak sedang aktif di organisasi sosial kemasyarakatan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga dengan seorang anak batita dan sedang mengandung anak kedua. Tetapi saya punya curiosity yang tinggi dan passion untuk memberdayakan perempuan, khususnya ibu-ibu seperti saya.

Semua berawal dari saat saya melahirkan anak pertama. Sebagai ibu baru yang masih newbie masalah mengurus bayi, saya bingung. Support yang didapat dari keluarga dan lingkungan sekitar saat itu belum bisa melegakan hati saya yang baru saja melahirkan secara caesar karena tiba-tiba didiagnosa preeklampsia berat, menenangkan bayi saya yang menangis lapar dan saya yang hanya bisa bengong melihatnya kenapa menangis dan kenapa ASI saya belum keluar sehingga dia bisa menyusu dari saya. Akhirnya bayi saya mengalami hiperbilirubin dan harus dirawat dengan terapi bluelight. Saat saya sudah bisa pulang walaupun perut masih sakit kalau jalan, tertawa atau bersin, bayi saya masih di ruang Perinatologi. Karena sedang disinar, otomatis dia perlu ASI lebih banyak. Hanya berbekal smartphone saya konsultasi via Twitter dan browsing artikel di Internet untuk tahu bahwa saya hanya perlu memberikan bayi saya ASI, tidak perlu susu formula, dan tanda bayi cukup asupan sehingga bisa tutup kuping masalah harus beri susu.

Alhamdulillah, bayi pertama saya selanjutnya tumbuh dengan sehat. ASI saya juga lancar bahkan berlebih sehingga saya memanfaatkan Twitter untuk mencari resipien donor ASI bagi anak saya. Sehingga, saya penasaran apakah ibu-ibu lain sama seperti saya, merasa ‘dicerahkan’ karena interaksinya di media sosial yang mencegah saya dari mengalami baby blues atau bahkan post partum depression. Karena melalui media sosial saya tahu apa itu yang namanya preeklampsia, sebuah komplikasi kehamilan yang belum diketahui penyebabnya, sehingga saat saya mengalaminya dan dibilang harus operasi saat itu juga saya tenang dan tidak takut. Rasa penasaran saya makin tidak terbendung saat saya mulai bekerja menjadi konsultan pendidikan luar negeri. Melihat para klien saya dari mulai anak SMP sampai seorang Bapak berpangkat Eselon 3 di sebuah Kementerian yang semangat melanjutkan sekolah di luar negeri membuat saya semakin ingin melanjutkan sekolah S3 di luar negeri. Hanya karena saya ingin tahu apakah media sosial benar bisa berdampak positif dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Mengapa kesehatan ibu dan anak penting? Karena angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, 359 per 100000 kelahiran hidup. Sangat jauh dari target SDG 24 per 100000 kelahiran hidup. Ibu yang tidak teredukasi dan tidak mendapat support yang optimal bisa lebih rentan jika menghadapi masalah kesehatan terkait kehamilan dan kelahiran anaknya serta kesehatan anaknya. Disinilah diharapkan media sosial dapat berkontribusi.

Setelah mengetahui hamil anak kedua, sayapun resign dari pekerjaan saya dan fokus pada kehamilan dan proses aplikasi sekolah. Alhamdulillah, supervisor thesis S2 saya di University of Queensland Australia saat itu menyetujui untuk saya menjadi supervisor S3-nya dan mendorong saya segera melakukan proses aplikasi formal ke Universitas. Dan Alhamdulillahnya lagi, saat itu kerabat memberitahukan tentang beasiswa LPDP dan menyarankan saya mendaftar. Dan Qadarullah lolos seleksi. Saya ikut wawancara dengan kondisi hamil 4 bulan dan flu berat, dengan berkaca-kaca menceritakan statistik 359 per 100000 dan bagaimana saya kehilangan teman-teman saya karena pendarahan dan preeklampsia, dua penyebab terbesar kematian ibu di Indonesia. PK saya pun harus ditunda 3 kali karena saya hamil besar, sampai akhirnya saya harus ikut PK dengan kondisi baru saja selesai nifas dan meninggalkan bayi saya yang baru berusia 40 hari.

PK merupakan pengalaman sangat berkesan karena kondisi spesial saya baru 40 hari melahirkan secara caesar dan harus memompa ASI 6-8 kali dalam 24 jam. Jadi di kelas, di ruang makan, di kamar tempat PK saya memerah ASI. Saya harus membawa cooler box dan perlengkapan memerah saat kami harus ke berbagai tempat seperti BRI Jakarta, UI Depok, Rindam Jaya Condet, bahkan ke Gunung Salak dimana saya harus memerah ASI dalam tenda dan membuangnya karena tidak tersedia tempat penyimpanan ASI. Di tempat-tempat itu juga saya harus menanyakan kulkas supaya bisa menyimpan ASI dan membekukan ice gel. ASI dijemput oleh suami beberapa hari sekali. Alhamdulillah dengan kondisi saya yang kurang fit (sempat mengalami jahitan saya sakit saat sesi di Rindam Jaya sehingga saya harus istirahat di kliniknya dan dilarang ikut kegiatan lainnya) habis melahirkan dan tidak begitu fokus karena harus memerah ASI dan mengurusi berbagai printilannya, saya tetap dinyatakan lulus PK.

Kegalauan berikutnya muncul. Saat PK di nametag saya tertulis universitas tujuan adalah University of Queensland, Australia. Tapi saya jadi ragu, bisakah saya S3 dengan kondisi anak 2 masih kecil-kecil, sementara suami berat untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai PNS untuk menemani saya? Saya berprinsip biar bagaimanapun keluarga harus tetap bersatu, jadi pilihan untuk berpisah dengan keluarga demi saya kuliah harus saya lepas. Saya pun mencari program S3 di dalam negeri yang sesuai, dan ketemu di IPB yaitu program Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Qadarullah lagi, saya memiliki kerabat di fakultas yang sama dengan program studi saya tersebut, dan saat menghubungi beliau, malah menawarkan agar beliau menjadi salah satu pembimbing S3 saya dan mau memberikan rekomendasi untuk aplikasi ke IPB. Saya mengajukan perpindahan universitas ke LPDP dengan alasan keluarga, yang meskipun “downgrade” karena ranking UQ jauh lebih tinggi dari IPB kala itu, tetap diterima sehingga saya tetap bisa menjadi awardee LPDP walaupun berpindah dari Awardee LN ke Awardee DN.

Akhirnya setelah jalan yang panjang, dari awal 2013 sampai akhir 2014 barulah saya resmi diterima sebagai mahasiswa IPB dan awardee LPDP. Saat kuliah pun, saya masih memperkenalkan diri sebagai “ibu rumah tangga” disaat teman-teman lain berprofesi sebagai dosen, redaktur majalah atau PNS. Meskipun begitu, saya adalah ibu rumah tangga yang memiliki niat dan passion yang kuat untuk turut memberdayakan dan mencerahkan ibu-ibu lainnya. Tidak mudah menjalani studi dengan 2 anak batita, sering saya menanyakan kepada diri saya mengapa saya melakukan ini dan ‘mengorbankan’ kedua anak saya (dan suami juga). Tetapi saya ingat, bahwa mencapai gelar Doktor ini bukan sebuah ambisi pribadi, tetapi untuk semua ibu-ibu di Indonesia agar tetap sehat dan cerdas dalam berbakti untuk keluarganya. Semoga Allah memudahkan jalan saya meraihnya. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *