Kebanggan Orang Tua Adalah Kebanggan Terbesar

Sebelum membaca, sedikit kami berikan informasi bahwa
Artikel ini adalah murni karya dari awardee LPDP IPB. Kami sebarluaskan karya ini secara gratis karena banyak oknum-oknum yang memanfaatkan peluang untuk mencari keuntungan dari salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Karya ini kami sebarluaskan agar bisa menjadi amal jariyah kami, dimana bisa menginspirasi teman-teman pembaca dan membantu mendapatkan beasiswa LPDP. Jika artikel ini disebarluaskan dengan dipungut biaya, kami dan penulis tidak akan meridhoi sehingga uang yang diterima tidak barokah. Sekian dari kami terima kasih sudah berkunjung

Oleh:
Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi
Awardee LPDP IPB PK 9 Program Megister dan Doctoral
Fb : Ibnu IlmiInstagram : Ibnu Ilmi
Website : Dosensosmed.com

dscf9192

Rasa minder dan pesimis selalu muncul setelah menyadari saya selalu mendapatkan peringkat diatas 15 besar di SD sampai SMP, dan memperoleh NUN SMP yang sangat kecil. Orang tua berharap saya bisa masuk SMA unggulan, namun untuk bersaing di unggulan kedua saya kesulitan. Rasa cemas muncul saat menunggu detik-detik pengumuman terjawab setelah diumukan saya diterima di SMA 1 Kediri pada peringkat 5 terbawah di sekolah.

Minder dan pesimis saat di kelas 1 SMA karena harus bersaing dengan teman yang lebih baik. Kejutan muncul saat saya mendapatkan peringkat 2 di kelas. Ini merupakan peringkat terbaik yang pernah saya dapatkan di bangku sekolah, dan dilanjutkan semester 2 saya memperoleh peringkat 3. Hasil ini dijadikan dasar penentuan saya masuk kelas unggulan, dan semenjak itu kembali mendapatkan peringkat di atas 15 karena bersaing dengan teman-teman yang paling pintar di sekolah. Memasuki kelas 3 perasaan bingung muncul karena harus menentukan sekolah dimana. Menyadari kemampuan terbatas, ada keinginan masuk sekolah perhotelan. Orientasi saat itu ingin cepat bekerja dan tidak ingin menjadi beban keluarga, karena ayah sudah pensiun sejak saya SMP.

Januari 2008 datanglah alumni SMA 1 Kediri yang sekolah di IPB, ketertarikan saya muncul pada IPB karena adanya beasiswa USMI dimana tidak ada ujian masuk dan biaya kuliah cukup murah. Sehingga saya mencoba untuk mendaftarkan diri. April 2008, kami mendapatkan pengumuman yang menyatakan saya diterima di IPB jurusan Gizi Masyarakat. Ibu kaget karena tidak ada keinginan saya di IPB. Awalnya ibu merestui saya mendaftar karena yakin tidak akan diterima setelah melihat sudara-saudara yang lebih pintar tidak pernah lolos PTN di Jawa Timur. Rasa khawatir ibu karena saya anak terakhir dan tidak pernah jauh dari orang tua. Berkat dukungan keluarga, teman-teman akhirnya ibu mengikhlaskan berangkat ke bogor. Juni 2008 dengan penuh tangis ibu melepas saya, setiap jam dalam perjalanan pulang ke Kediri ibu selalu menghubungi, menanyakan kabar dengan menangis. Semenjak itu jadi motivasi untuk belajar dan mengikuti organisasi untuk menambah ilmu dan pengalaman.

Tahun pertama saya mengikuti kegiatan magbid di masjid Al-Hurriyah, saat itu mentor memutarkan video Biografi Danang A. Prabowo MAPRES 2007 IPB. Video itu menceritakan tentang Kekuatan Mimpi dan mengajak untuk jangan takut bermimpi besar. Selain itu mengajak untuk menuliskan mimpi-mimpi di kertas, jika hanya menuliskan di ingatan pasti itu akan lupa. Akhirnya saya mengikuti jejaknya untuk menuliskan mimpi-mimpi diantaranya mengikuti PIMNAS, menginjakkan kaki di luar negri, menjadi juara 1 LKTI, menjadi MAPRES. Perasaan pesimis muncul saat saya mendapatkan IPK 2,75 di tahun pertama, sehingga saya coba melupakan semua mimpi-mimpi.

Motivasi saya mulai terangkat kembali setelah bulan April 2011 saya dinyatakan mendapatkan beasiswa penelitian IRN. Semenjak itu saya aktif kembali dengan teman-teman untuk menulis tentang daun kelor dan mendaftar ke International Conference. Libur lebaran 2011 saya mendapatkan email dari Kyoto bahwa saya lolos dan diberikan kesempatan untuk mempresentasikan di Kyoto University. Perjalan berangkat ke Kyoto tidak semudah yang dibayangkan karena saya belum mendapatkan sponshor untuk berangkat. Proposal sudah disebar dimana-mana namun hanya 1 perusahaan yang menjawab. Akhirnya ibu menasehati untuk tetap berangkat, dan tidak usah takut kehilangan uang, pengalaman lebih berharga, semua biaya akan dicarikan dan saya harus tetap berangkat. Melihat niat ibu akhirnya saya berangkat dengan pinjaman uang dari mana-mana. Bulan Oktober 2011 saya pertama kali menginjakkan kaki di luar negri dan di saat itu pula saya mendapatkan email dari teman di Indonesia bahwa saya mendapatkan penghargaan dari Dekan sebagai mahasiswa berprestasi fakultas. Rasa syukur saya tidak berhenti setelah sampai di Indonesia pihak Indofood mengganti semua biaya saya dan karya tulis tentang kelor masuk Final di UNDIP. Mimpi-mimpi saya mulai teruwujud satu-persatu setelah kami berhasil juara I LKTI di UNDIP dan proposal sukun dan kelor mendapat hibah PKM dari dikti. Semangat tidak ada hentinya pada bulan 2012, saya melakukan 3 penelitian secara bersamaan untuk mewujudkan mimpi saya ke PIMNAS. Namun diakhir kegiatan kami dinyatakan tidak lolos. Sebagai gantinya penelitian yang kami lakukan mendapatkan pernghargaan dari 104 Inovasi Indonesia.

Kesemuanya yang telah saya capai bukan merupakan kesuksesan terbesar saya. Kesuksesan terbesar saya saat orang tua dengan bangga menceritaka setiap kegiatan yang saya lakukan di kampus, menceritakan perjuangan saya berangkat ke Jepang, perjuangan melakukan penelitan, dan kebanggan saat ditanyakan bagaimana cara mereka mendidik saya. Itulah kesuksesan terbesar saya karena telah berhasil menghapus kekhawatiran orang tua saat saya kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *